Senin, 23 Februari 2026

Imlek 2026 di Malioboro dsk

2 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Selamat menjalankan rangkaian ibadah Ramadan, ya. Tentu ucapan ini spesial buat kamu dan kamu yang menjalankannya. Kalau kamu (meskipun beragama Islam) tidak menjalankan ibadah Ramadan, pastilah tidak termasuk target ucapan spesial tersebut. Haha ... 

Amboi. Belibet nian paragraf pembuka tulisan ini 'kan? Eeetapi jangan apriori dulu untuk lanjut baca hingga tuntas. Dijamin paragraf-paragraf selanjutnya tidak belibet. Sebab pada dasarnya hanya akan bercerita melalui foto-foto, tentang nuansa Imlek 2026 di Malioboro dsk. Apa itu dsk? Sudah pasti singkatan "dan sekitarnya", dong.

Mengapa tidak Malioboro saja? Mengapa mesti diembel-embeli dsk? Lhah, gimana? Karena memang foto-foto bernuansa Imlek yang kupamerkan di sini tidak cuma yang ada di Malioboro, tetapi yang ada di Stasiun Yogyakarta dan area Titik Nol juga.

Baik. Mari mulai dari foto paling atas. Yang ada kudanya itu. Yang menunjukkan kalau Imlek 2026 adalah memasuki Tahun Kuda Api. Foto tersebut aku jepret di dekat perempatan Titik Nol Jogja. Tepatnya yang di trotoar depan Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogyakarta).

Kemudian dua foto di bawah ini. Lampion-lampion merah itu menghiasi tiap sudut jalan di seantero Kawasan Malioboro. Menyelinap di antara pengunjung Malioboro. Menemani mereka yang nongki-nongki di situ.

Tentu yang paling istimewa di sekitaran mulut gang Kampoeng Ketandan.Depan mulut gang dihiasi deretan lampion merah cerah. Sungguh menarik dan bikin aku yang penyuka merah menjadi amat antusias.

Perlu diketahui, lusa hingga awal Maret Kampoeng Ketandan bakal makin meriah. Yup, akan ada PBTY (Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta) 2026. Nah, lho. Baru membayangkan saja sudah riuh di kepala.

Kemudian tiga foto terakhir, kupamerkan foto-foto di Stasiun Yogyakarta. Tak usah bingung Stasiun Yogyakarta itu yang mana. Mari diingat-ingat saja. Stasiun Yogyakarta adalah nama resmi stasiun kereta api yang berlokasi di ujung utara Jalan Malioboro. Yang lebih terkenal dengan nama Stasiun Tugu.

Perlu diketahui bahwa selain punya nilai historis yang kental, Stasiun Yogyakarta ditahbiskan sebagai salah satu stasiun paling instagramable di Indonesia. Hmm. Apakah kamu setuju pentahbisan itu? Berdasarkan pengalamanmu bagaimana?

Ngomong-ngomong, demikian cerita nuansa Imlek 2026 dari Malioboro dsk. Semoga bermanfaat atau minimal menghibur. 



Senin, 16 Februari 2026

KASM di Malioboro Yogyakarta

12 komentar


 

HALO, Sobat Pikiran Positif? Sebentar lagi Imlek dan Ramadan, nih. Seru dan unik, ya? Dua momentum besar tersebut bisa kita (bangsa Indonesia) hadapi dalam satu jangka waktu. Jarang terjadi 'kan? 

Eh, tapi aku sekarang tidak hendak ngomongin Imlek dan Ramadan. Insyaallah nanti di postingan selanjutnya. Karena kali ini, aku mau ngomongin KASM yang ada di Malioboro dulu.

Apa itu KASM? Tak lain dan tak bukan  itu singkatan dari Kran Air Siap Minum. Jadi, air yang mengucur dari kran yang kita buka, bisa langsung diminum. Tak perlu dimasak terlebih dahulu.

Jadi misalnya kita bawa gelas dan sendok plus kopi yang bisa diseduh dengan air bukan air panas, bisa banget ngopi-ngopi santai di tempat. Tinggal pilih KASM yang berlokasi di mana. Hehe ...

Nah. Di sini aku bermaksud menginformasikan KASM yang ada di kawasan Malioboro. Siapa tahu di antara kalian ada yang belum tahu tentangnya?

Begini. Setelah peranti-peranti KASM di kawasan tersebut rusak beberapa tahun silam, yang berujung "bangkainya" tak lagi ketahuan rimbanya, syukurlah memasuki tahun 2026, KASM diadakan lagi. Semoga kemunculannya kali ini awet. Keterlaluan kalau rusak lagi, rusak lagi.

Perlu diketahui, ada 5 KASM yang tersebar di kawasan Malioboro. Di mana sajakah itu? Mari kita mulai mengabsen dari selatan, yaitu dari area Titik Nol. 

KASM yang ada di sisi barat jalan terletak di depan Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogyakarta). Sementara yang di sisi timur jalan terletak di depan Museum Benteng Vredeburg (persis di belakang halte TransJogja).

Adapun 3 lainnya terletak lebih ke utara. Yang 2 di sisi timur jalan, yaitu di pintu barat Kompleks Kepatihan dan di depan Hotel Grand Inna Malioboro. Yang 1 lagi ada di sisi barat jalan. Tepatnya di depan Jogja Library Center.


Dokpri Agustina

Silakan ingat-ingat, terutama buat kalian yang baru-baru ini habis berkunjung ke Malioboro, kalian menjumpai KASM-KASM itu atau tidak? Atau, malah sudah memanfaatkannya?

Kiranya sekian informasi tentang Kran Air Siap Minum (KASM) yang ada di kawasan Malioboro Yogyakarta. Semoga bermanfaat. Tunggu ceritaku lainnya tentang Yogyakarta.



Senin, 09 Februari 2026

Larangan Merokok di Malioboro

12 komentar
Dokpri Agustina


HALO, Sobat Pikiran Positif? Belakangan ini kalian sempat berkunjung ke Malioboro? Yoiii. Malioboro yang di Yogyakarta itu. Tempatku keluyuran sepanjang waktu. 

Kalau iya, pastilah kalian sempat juga melihat emplek-emplek yang foto-fotonya kusematkan di tulisan ini. Emplek-emplek menarik yang berisi pesan menyebalkan bagi para perokok. Haha!

Betapa tidak menyebalkan kalau isinya pengingat bahwa Malioboro merupakan KTR alias Kawasan Tanpa Rokok. Mana di situ dicantumkan pula perdanya. Perda Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok.


Dokpri Agustina


Sebetulnya suatu upaya yang bagus, sih. Malioboro 'kan sebuah kawasan publik. Destinasi wisata yang notabene penuh pengunjung. Jadi, adanya larangan merokok di situ memang tepat. Bakalan bikin nyaman banyak orang. 

Akan tetapi, apakah jalan-jalan nyaman di Malioboro tanpa asap rokok bisa terwujud? Terwujud secara permanen alias selama-lamanya? Bukan cuma pas gencar ada sosialisasi dan razia? Ehm. Saya kok pesimis. 

Sebenarnya 'kan larangan merokok di Malioboro itu sudah berlaku sejak lama. Sejak beberapa tahun lalu. Bukan baru-baru ini saja. Namun, sosialisasinya terkesan setengah hati. Begitu pula penegakan aturannya (larangannya).

Dokpri Agustina
Dokpri Agustina


Sama persis dengan larangan menyewakan skuter atau kendaraan listrik apa pun di Kawasan Malioboro. Sama persis maksudnya ya, sama-sama cuma wacana hihi ... 

Katanya dilarang, kok masih ada? Ternyata, o, rupanya. Ada semacam adu kuasa yang tak kasat mata dalam pelaksanaannya. Entahlah. Namun, lumayanlah. Masih ditulis juga larangan menyewakan kendaraan listrik itu di bawah larangan merokok.

Ngomong-ngomong, untuk pelarangan merokok di Malioboro malah aku pernah melihat sebuah keanehan. Keanehan apakah? Hmm ... satpol PP-nya merokok, dong. Tentu merokoknya bukan saat sosialisasi gencar dilakukan. Saat sudah adem ayem itu, lho. 

Coba bayangkan. Kalau kondisinya seperti itu, apa mungkin Malioboro segera bisa menjadi KTR alias Kawasan Tanpa Rokok? 'Kan jauh panggang dari api.

Semoga tulisan ini dibaca pihak berwenang. Jadi, bisa untuk bahan evaluasi.


Senin, 12 Januari 2026

Pasar Godean Yogyakarta

8 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Tak terasa 2026 telah sampai pada bulan pertama hari ke-12, ya? Nah. Apa kabar resolusi tahun barumu sejauh ini? Apakah sudah mulai diupayakan? Atau, malah pelan-pelan mulai terlupakan? Hehe ...

Kalau mulai lupa pada resolusi tahun baru, ayolah kembali diingat dan kemudian diupayakan. Senyampang hari ini Senin. Sebuah hari yang merupakan pembuka minggu. Yang harapannya membawa semangat baru juga.

Hmm. Sepertinya butuh menyimak ceritaku dulu, ya? Sebelum lanjut mengupayakan terwujudnya resolusi tahun baru itu? Oke, oke. Siapa takut untuk bercerita? Mari simak sebentar ceritaku tentang Pasar Godean

Pasar Godean terletak di Kapanewon (Kecamatan) Godean Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 15 Km di sebelah barat Kota Yogyakarta. Dari Malioboro kita bisa naik Trans Jogja Jalur 13 untuk mencapainya.

Pasar Godean merupakan pasar tradisional dan tergolong sebagai pasar induk. Apa arti sebagai pasar induk? Artinya, pasar ini menjadi pusat distribusi utama dari komoditi-komoditi yang dibutuhkan pasar. Menjadi pengendali sekaligus acuan harga bagi pasar-pasar tradisional yang lebih kecil di sekitarnya. 

Pasar induk berbasis grosir, tetapi juga melayani pembelian eceran. Tidak mengherankan kalau segala rupa kebutuhan tersedia di sana. Oleh karena itu,  pasar induk selalu luas dan terletak di lokasi strategis.

Nah. Seperti itulah Pasar Induk Godean. Berada di tepi jalan utama yang menghubungkan Kota Yogyakarta dan Godean. Bangunannya luas, bahkan setelah dipugar (revitalisasi) terdiri atas 3 lantai. Fasilitasnya komplet. Ada parkiran memadai, toilet, musala, lift untuk barang, dan jalur khusus disabilitas. 

Dua foto berikut adalah penampakan Pasar Godean terkini, setelah revitalisasi, dari sisi selatan. 

Perlu diketahui bahwa dahulu sisi selatan itu merupakan bagian depan. Adapun setelah revitalisasi menjadi bagian belakang. Jadi, dahulu Pasar Godean menghadap ke selatan dan sekarang menghadap ke utara. Ada perubahan letak pintu masuk utama.

Perlu diketahui juga bahwa perubahan pintu masuk utama bagi sebuah pasar, acap kali dikaitkan dengan datangnya rezeki. Entahlah kebenarannya bagaimana. Hanya saja, konon Pasar Godean tak seramai ketika masih menghadap selatan. Ketika pintu masuk utamanya langsung berhadapan dengan Jalan Raya Yogyakarta-Godean.

Aku sih, antara percaya tidak percaya. Kesan lebih sepi bisa jadi karena kini lebih rapi. Dahulu 'kan bagian depan pasar terlihat semrawut. Campur baur antara parkiran dan kios-kios yang menjual keripik belut. Plus dekat bangjo perempatan jalan raya. 

Tahu sendirilah, ya. Bagaimana ruwetnya campuran antara situasi pasar yang agak tumpah ke jalan (bahkan dekat perempatan pula), dengan padatnya lalu lintas yang sebagian melaju sebab bangjo menyala hijau dan sebagian berhenti tepat di depan pasar karena bangjo menyala merah.

Sementara sekarang sangat berbeda. Arus keluar-masuk pengunjung Pasar Godean tidak lagi dari jalan raya dekat perempatan. Malah kini ada pagar kokoh yang membatasi jalan raya itu dengan bangunan pasar. Plus ada jarak lumayan jauh dari pagar ke deretan lapak-lapak penjual. 

Lapak-lapak penjual di dalam pasar pun lebih tertata. Dikelompokkan sesuai dengan jenis komoditi yang dijual. Lebih lapang juga sehingga wajar kalau terkesan lebih sepi. 

Terlebih kalau melihatnya dari sisi selatan yang notabene bagian belakang. Orang-orang 'kan masuk dari pintu depan yang ada di utara. Parkirannya memang di utara sana. Bongkar muat barang juga demikian. Jadi kalau cuma melihat dari luar di sisi selatan pasar, memang terkesan tak ada orang. 

Sebelum revitalisasi, sebagian aktivitas jual beli terlihat dari jalan. Maklumlah. Lapak-lapak sebagian memang di luar pasar. Sekarang 'kan beda. Teras sisi selatan bersih dari pedagang. Alhasil, aku dan dua teman leluasa pepotoan di situ. 

Usai pepotoan dan ambil video, kami nongkrong di tempat rehat yang tersedia. Kami pilih yang ada bangkunya. Dua foto berikut adalah penampakan tempat rehat di tengah bangunan Pasar Godean. Lumayan Instagramable 'kan?


Yang menarik, di Pasar Godean ada makam dan monumen. Monumen ada di bagian utara pasar. Penampakannya dalam foto berikut ini. Sayang banget aku cuma memotret dari atas. Jadi, tulisan pada monumen tetap susah dibaca walaupun di-zoom. 

Mengapa tidak mendekat saja? Nah, itulah masalah. Aku lupa mendekatinya sewaktu sudah turun. Malah langsung pulang. Akan tetapi, kata seorang teman yang biasa berbelanja di Pasar Godean, itu monumen tentang perjuangan kemerdekaan.


Lalu, di mana makamnya? Dalam foto di bawah ini aku sedang berjalan melintasi makam. Makamnya tepat di sebelah kiriku. Di dalam area berpagar dan di dalam bangunan yang temboknya berwarna merah bata. 

Silakan cermati foto paling atas yang ada di artikel ini. Di belakang tulisan "Pasar Induk Godean" itulah lokasi makamnya. Ada 2 nisan di situ, yaitu nisan Mbah Jembrak dan nisan sang istri. 

Siapa mereka? Konon mereka adalah pengikut Pangeran Diponegoro. Konon pula sesepuh daerah situ. Yang jelas, yang tidak sekadar konon, makam tersebut sudah berada di situ jauh sebelum Pasar Godean berdiri.


Demikian cerita singkatku tentang Pasar Induk Godean. Semoga bermanfaat. Pun, menarik minat kalian untuk mengunjunginya. 

Ayolah, singgah ke pasar ini untuk membeli keripik belut. Yup! Pasar Godean memang sentra oleh-oleh keripik belut di Yogyakarta. 



 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template